Review Film The Glory: Dendam Sekolah yang Dingin

Review Film The Glory: Dendam Sekolah yang Dingin

Review Film The Glory: Dendam Sekolah yang Dingin. Di antara drama Korea yang terus mendominasi percakapan global hingga awal 2026, The Glory tetap menjadi salah satu karya paling dingin, intens, dan memuaskan bagi penggemar cerita balas dendam. Dirilis dalam dua bagian pada Desember 2022 dan Maret 2023 di Netflix, serial karya Kim Eun-sook ini langsung mencapai puncak chart di lebih dari 90 negara dan menjadi salah satu drama Korea paling banyak ditonton sepanjang masa di platform tersebut. Dengan Song Hye-kyo sebagai Moon Dong-eun, seorang korban bullying sekolah yang merencanakan dendam selama 18 tahun, The Glory bukan sekadar cerita revenge; ia adalah potret dendam sekolah yang dingin, terencana, dan tanpa ampun—di mana setiap langkah terasa seperti pukulan balik yang telah dihitung matang, membuat penonton ikut merasakan kepuasan sekaligus ketegangan yang menyesakkan. BERITA TERKINI

Latar Belakang Serial: Review Film The Glory: Dendam Sekolah yang Dingin

 

The Glory mengikuti Moon Dong-eun, siswi SMA yang mengalami bullying brutal selama masa sekolah—fisik, psikologis, dan seksual—yang membuatnya berhenti sekolah dan hidup dalam trauma berkepanjangan. Delapan belas tahun kemudian, ia kembali ke kota yang sama dengan rencana balas dendam yang sempurna: menyusup ke lingkaran sosial para pelaku, memanfaatkan kelemahan mereka satu per satu, dan menghancurkan hidup mereka tanpa meninggalkan jejak yang bisa dituntut hukum. Song Hye-kyo membawakan Dong-eun dengan dingin, tenang, dan penuh perhitungan—penampilan yang membuat karakternya terasa seperti predator yang sabar. Lee Do-hyun sebagai Joo Yeo-jeong, dokter bedah plastik yang menjadi sekutu utama, menambahkan lapisan emosi dan romansa halus. Pemeran antagonis seperti Lim Ji-yeon sebagai Park Yeon-jin (pelaku utama yang kini ibu rumah tangga kaya) dan Kim Hieora sebagai Lee Sa-ra (pecandu narkoba) memberikan kedalaman pada karakter jahat yang tak sekadar jahat, tapi produk dari lingkungan dan pilihan buruk mereka sendiri.
Serial ini disutradarai oleh Ahn Gil-ho dengan gaya visual yang tajam: warna dingin, close-up intens, dan pacing lambat yang membangun ketegangan. Musik oleh Kim Tae-seong memperkuat suasana mencekam tanpa berlebihan. Bagian pertama fokus pada persiapan dendam, sementara bagian kedua menampilkan eksekusi yang memuaskan, membuat penonton tak bisa berhenti menonton.

Analisis Tema dan Makna: Review Film The Glory: Dendam Sekolah yang Dingin

 

Makna inti The Glory adalah dendam sekolah yang dingin—bukan amarah meledak-ledak, melainkan rencana jangka panjang yang dingin seperti es. Dong-eun tak membunuh atau menyakiti secara fisik; ia menghancurkan pelaku melalui cara yang paling menyakitkan: membuat mereka kehilangan segala yang mereka hargai—reputasi, keluarga, karier, dan rasa aman. Setiap langkahnya terasa seperti catur: memanfaatkan kelemahan psikologis Yeon-jin, memanipulasi suaminya, atau memaksa Sa-ra menghadapi trauma masa lalu. Ini adalah balas dendam yang cerdas dan legal, menunjukkan bahwa keadilan kadang tak datang dari hukum, melainkan dari orang yang pernah menjadi korban.
Serial ini juga menyoroti dampak jangka panjang bullying sekolah: trauma yang tak hilang, rasa malu yang abadi, dan bagaimana korban bisa berubah menjadi monster yang lebih dingin dari pelakunya. Dong-eun bukan pahlawan sempurna; ia kehilangan empati, hidup hanya untuk dendam, dan akhirnya membayar harga emosionalnya sendiri. Ada kritik halus terhadap masyarakat Korea yang menekankan citra dan status sosial—bagaimana pelaku bullying bisa lolos karena privilege, koneksi, dan sikap “semua orang melupakan masa lalu”. Di sisi lain, serial ini memberikan katarsis bagi banyak penonton yang pernah mengalami bullying, menunjukkan bahwa meski hukum lambat, keadilan bisa datang dalam bentuk lain—dan kadang, itu terasa lebih memuaskan.

Dampak dan Resepsi Publik

Sejak rilis, The Glory mendapat sambutan luar biasa karena keberaniannya menampilkan bullying sekolah tanpa sensor dan balas dendam yang dingin tanpa kekerasan berlebih. Song Hye-kyo dipuji karena transformasinya menjadi karakter yang dingin namun penuh luka, sementara Lim Ji-yeon sebagai Yeon-jin menjadi salah satu antagonis paling dibenci sekaligus menarik di drama Korea. Serial ini memicu diskusi global tentang bullying, trauma masa kecil, dan pentingnya dukungan bagi korban. Di Indonesia, The Glory viral di TikTok dan Twitter dengan potongan adegan dendam yang ikonik, serta menjadi bahan diskusi di komunitas drama Korea tentang keadilan dan pengampunan. Hingga 2026, serial ini masih sering masuk rekomendasi “best revenge drama” di Netflix, dengan penonton baru terus bermunculan dan memicu rewatch untuk menikmati detail rencana Dong-eun yang rumit.

Kesimpulan: Review Film The Glory: Dendam Sekolah yang Dingin

The Glory adalah masterpiece dendam sekolah yang dingin—sebuah cerita di mana balas dendam tak lagi tentang amarah, melainkan perencanaan sempurna yang membuat pelaku merasakan apa yang pernah mereka timbulkan. Song Hye-kyo dan tim produksi berhasil menyajikan narasi yang memuaskan tanpa jatuh ke klise, membuat penonton ikut merasakan kepuasan sekaligus pertanyaan moral tentang batas dendam. Di 2026 ini, ketika isu bullying dan trauma masih aktual, serial ini mengingatkan bahwa luka masa lalu tak pernah benar-benar hilang—dan kadang, satu-satunya cara menyembuhkannya adalah dengan membuat pelakunya merasakan yang sama. Jika Anda belum menonton ulang atau baru ingin mencobanya, siapkan waktu—The Glory akan membuat Anda terpaku hingga akhir, dan mungkin memikirkan ulang tentang masa sekolah yang pernah Anda lewati.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *