Review Film Citizen Kane: Inovasi Sinematik Orson Welles

Review Film Citizen Kane: Inovasi Sinematik Orson Welles

Review Film Citizen Kane: Inovasi Sinematik Orson Welles. Citizen Kane karya Orson Welles yang tayang pada 1941 tetap dianggap sebagai salah satu film terbesar dan paling berpengaruh sepanjang masa. Berlatar di Amerika awal abad ke-20, film ini menceritakan kehidupan Charles Foster Kane (diperankan Welles sendiri), seorang magnat surat kabar yang kaya raya dan berkuasa, melalui kilas balik yang dicari oleh seorang reporter setelah kematiannya. Kata terakhir Kane, “Rosebud”, menjadi misteri yang menggerakkan seluruh narasi. Dengan durasi sekitar 119 menit, Welles—yang baru berusia 25 tahun saat menyutradarai—menggabungkan teknik sinematik revolusioner, narasi non-linier, dan kedalaman psikologis yang belum pernah ada sebelumnya di Hollywood. Hampir 85 tahun kemudian, di tengah era film blockbuster dan streaming, Citizen Kane masih sering disebut sebagai standar emas sinema karena keberaniannya mematahkan konvensi dan membuka jalan bagi generasi sutradara berikutnya. BERITA TERKINI

Teknik Sinematik yang Revolusioner: Review Film Citizen Kane: Inovasi Sinematik Orson Welles

Orson Welles dan sinematografer Gregg Toland menciptakan gaya visual yang benar-benar baru. Deep focus—teknik di mana foreground, tengah, dan latar belakang tetap tajam sekaligus—digunakan secara konsisten, memungkinkan penonton melihat seluruh lapisan adegan tanpa kehilangan detail. Low-angle shot yang ekstrem membuat Kane tampak lebih besar dan mengintimidasi, sementara ceiling shot menunjukkan langit-langit kamar yang biasanya disembunyikan di film era itu. Montase berita reel palsu di awal film, transisi wipe yang kreatif, serta penggunaan bayangan dan cermin untuk mencerminkan fragmentasi kepribadian Kane, semuanya terasa segar bahkan sekarang. Welles juga memanfaatkan suara dengan inovatif: overlapping dialogue, echo di ruang besar Xanadu, dan narasi yang saling bertabrakan dari berbagai saksi. Musik Bernard Herrmann yang dramatis dan gelap memperkuat suasana tragis tanpa pernah mendominasi. Semua elemen ini membuat Citizen Kane bukan sekadar cerita, melainkan pengalaman sinematik yang memaksa penonton berpikir aktif.

Tema Kekuasaan, Kesepian, dan Kehilangan yang Mendalam: Review Film Citizen Kane: Inovasi Sinematik Orson Welles

Di balik inovasi teknisnya, Citizen Kane adalah studi karakter tentang ambisi yang menghancurkan. Charles Foster Kane adalah potret kompleks seorang pria yang mengumpulkan kekayaan, pengaruh, dan barang-barang mewah, tapi tetap kesepian hingga akhir hayatnya. “Rosebud” yang terungkap di akhir—sebuah sled masa kecilnya—menjadi simbol kehilangan kepolosan dan cinta yang tak pernah ia dapatkan kembali. Film ini mengkritik kekuasaan media, manipulasi opini publik, serta bagaimana orang kaya sering kali membangun kerajaan untuk mengisi kekosongan batin. Narasi non-linier melalui wawancara dengan orang-orang yang mengenal Kane menunjukkan bahwa tidak ada satu versi kebenaran; setiap saksi hanya melihat potongan kecil dari hidupnya. Welles tidak menghakimi Kane secara langsung—ia membiarkan penonton merasakan tragedinya: seorang pria yang bisa mengendalikan dunia, tapi tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tema ini tetap relevan di era sekarang, ketika miliarder media dan pengaruh digital sering kali mencerminkan pola yang sama.

Warisan dan Pengakuan yang Abadi Citizen Kane

awalnya kontroversial karena diduga terinspirasi dari kehidupan William Randolph Hearst, yang mencoba memboikot film tersebut—tapi justru itu yang membuatnya legendaris. Film ini memenangkan satu Oscar (Best Original Screenplay) dari sembilan nominasi, tapi seiring waktu menduduki peringkat pertama dalam banyak polling kritikus dan sineas, termasuk Sight & Sound selama beberapa dekade. Pengaruhnya terasa di hampir setiap sutradara besar: dari Godard dan Scorsese hingga Nolan dan PTA. Restorasi 4K yang dirilis beberapa tahun lalu membuat detail-detail seperti salju di Xanadu atau ekspresi wajah Welles semakin hidup, dan penayangan ulang di bioskop arthouse terus laris. Di 2026, ketika diskusi tentang kekuasaan media semakin panas, Citizen Kane sering dijadikan referensi untuk memahami bagaimana satu orang bisa membentuk narasi dunia.

Kesimpulan Citizen Kane

adalah karya genius Orson Welles yang mengubah sinema selamanya. Dengan teknik deep focus, narasi fragmentaris, dan karakter yang kompleks, film ini membuktikan bahwa film bisa sekaligus intelektual, emosional, dan visualnya memukau. Hampir satu abad berlalu, kekuatannya tetap utuh—setiap kali ditonton ulang, penonton menemukan lapisan baru tentang kekuasaan, kehilangan, dan apa artinya menjadi manusia. Jika Anda belum pernah menonton di layar lebar, atau sudah lama tak menonton ulang, carilah kesempatan itu. Ini bukan film lama yang harus “dihormati”; ini adalah film yang masih hidup, masih relevan, dan masih mampu mengguncang siapa pun yang mau melihatnya dengan mata terbuka. Sebuah mahakarya yang mengingatkan kita: di balik segala kemegahan, sering kali yang paling berharga adalah sesuatu yang sederhana seperti sled masa kecil.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *