Review Film We Made a Beautiful Bouquet: Romansa ala Jepang. We Made a Beautiful Bouquet (Hanataba o Tsurukuyouni, 2021) karya Junichi Sato tetap menjadi salah satu film romansa Jepang paling lembut dan menyentuh dalam beberapa tahun terakhir. Hampir lima tahun berlalu, film ini masih sering direkomendasikan bagi yang mencari cerita cinta dewasa yang tenang, realistis, dan penuh nuansa musiman. Dengan rating 7.2/10 di IMDb dan pujian atas chemistry Kasumi Arimura serta Takeru Satoh, film ini berhasil menangkap esensi romansa Jepang: tidak berlebihan, tidak dramatis berlebih, tapi sangat dalam dan penuh perasaan. Kisah tentang dua orang yang bertemu di musim semi dan berpisah di musim dingin ini terasa seperti puisi visual yang indah sekaligus menyedihkan. MAKNA LAGU
Cerita yang Sederhana tapi Penuh Makna di Film We Made a Beautiful Bouquet: Review Film We Made a Beautiful Bouquet: Romansa ala Jepang
Film ini mengisahkan Mugi Yamane (Takeru Satoh), seorang pemuda 25 tahun yang baru lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan, serta Kinu Hachiya (Kasumi Arimura), gadis seusianya yang bekerja paruh waktu sambil mengejar mimpi menjadi ilustrator. Mereka bertemu secara kebetulan di stasiun kereta saat hujan deras, berbagi payung, dan akhirnya memutuskan menjalani hubungan “tanpa komitmen” selama satu tahun—hanya menikmati waktu bersama tanpa janji masa depan. Hubungan mereka berjalan melalui empat musim: dari kencan santai di musim semi, liburan musim panas, hingga pertengkaran kecil di musim gugur, dan akhirnya perpisahan di musim dingin. Tidak ada konflik besar seperti perselingkuhan atau orang ketiga—hanya pertumbuhan pribadi, perbedaan mimpi, dan kesadaran bahwa cinta kadang tidak cukup untuk bertahan bersama. Ending film terbuka dan sangat Jepang: tidak ada deklarasi cinta dramatis, hanya dua orang yang saling melepaskan dengan penuh kasih sayang dan sedikit penyesalan.
Chemistry Takeru Satoh dan Kasumi Arimura yang Hangat di Film We Made a Beautiful Bouquet: Review Film We Made a Beautiful Bouquet: Romansa ala Jepang
Takeru Satoh dan Kasumi Arimura punya chemistry yang sangat alami dan lembut—seperti dua orang biasa yang benar-benar saling menyukai tanpa perlu berlebihan. Takeru membawa karakter Mugi dengan sikap santai tapi penuh perhatian, sementara Kasumi sebagai Kinu terasa sangat hidup: ceria, sedikit canggung, tapi punya kedalaman emosi yang kuat. Adegan-adegan kecil seperti makan ramen bersama, jalan-jalan di taman sakura, atau diam bersama di kamar terasa sangat intim dan relatable. Pencitraan musiman sangat indah: bunga sakura di musim semi, festival kembang api di musim panas, daun gugur di musim gugur, dan salju tipis di musim dingin—semuanya difilmkan dengan warna lembut yang memperkuat rasa melankolis. Musik latar karya Yoko Kanno minimalis tapi sangat menyentuh, terutama lagu tema “Hanataba o Tsurukuyouni” yang menjadi pengiring emosional sepanjang film.
Tema Cinta Dewasa dan Penerimaan Diri
We Made a Beautiful Bouquet bukan romansa remaja yang penuh drama—ia adalah cerita cinta dewasa yang realistis. Film ini menunjukkan bahwa hubungan bisa berakhir bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena masing-masing punya mimpi dan arah hidup yang berbeda. Tidak ada villain, tidak ada pengkhianatan—hanya dua orang yang saling menghargai tapi akhirnya memilih berpisah demi pertumbuhan pribadi. Pesan akhirnya hangat: cinta yang indah tidak harus selamanya; kadang cukup dengan kenangan yang baik dan saling mendoakan kebahagiaan satu sama lain.
Kesimpulan
We Made a Beautiful Bouquet adalah film romansa Jepang yang langka: lembut, realistis, dan sangat menyentuh tanpa perlu adegan dramatis berlebihan. Chemistry Takeru Satoh dan Kasumi Arimura yang hangat, pengambilan gambar musiman yang indah, dan cerita yang penuh makna membuat film ini terasa seperti puisi visual yang tenang tapi mendalam. Jika kamu mencari romansa yang membuatmu tersenyum sekaligus sedih, merenung tentang cinta dan perpisahan, film ini adalah tontonan wajib. Tidak ada happy ending sempurna—hanya rasa syukur atas waktu yang pernah indah. Nonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali menonton ulang, kamu akan merasakan kelembutan yang semakin dalam. We Made a Beautiful Bouquet bukan sekadar film cinta; ia adalah pengingat bahwa romansa paling indah kadang hanya berlangsung satu musim, tapi kenangannya bisa bertahan selamanya.

