Wicked: For Good
Wicked: For Good

Review Jujur Film Wicked: For Good

Review Jujur Film Wicked: For Good. Wicked: For Good, sekuel dari film Wicked tahun lalu, dirilis pada November 2025 dan langsung jadi pembicaraan hingga akhir tahun. Film ini lanjutkan kisah Elphaba yang kini hidup tersembunyi sebagai Wicked Witch of the West, sambil lawan kezaliman Wizard dan lindungi hak Animals. Glinda, sebagai figur publik yang populer, hadapi dilema moral sendiri. Dengan durasi lebih pendek sekitar 2 jam 17 menit, film ini fokus pada act kedua musical Broadway, tambah elemen lebih gelap dan referensi ke The Wizard of Oz klasik. Hingga akhir 2025, review film ini sudah raup ratusan juta dolar dan dapat respons campur positif dari kritikus, meski penonton kasih rating tinggi karena emosi mendalam dan penampilan bintang utama.

Alur Cerita dan Perkembangan Karakter Film Wicked: For Good

Alur Wicked: For Good lebih gelap dan serius dibanding bagian pertama, dengan fokus pada konflik politik Oz, pengkhianatan, dan perjuangan Elphaba ungkap kebenaran Wizard. Ada momen action intens seperti pengejaran dan konfrontasi, tapi inti cerita tetap di persahabatan rumit Elphaba dan Glinda yang penuh ache emosional. Karakter Elphaba berkembang jadi lebih tegas dan lean into image wicked-nya, sementara Glinda hadapi konsekuensi pilihan politiknya. Tambahan lagu baru seperti “The Girl in the Bubble” kasih ruang Glinda eksplorasi dalam, dan “No Good Deed” jadi highlight vokal Elphaba yang powerful. Beberapa kritik bilang pacing agak lambat di awal dan rushed di akhir, tapi ending bittersweet-nya sukses bawa closure satisfying sambil hubungkan ke cerita Oz asli.

Penampilan Aktor dan Produksi Visual

Penampilan Cynthia Erivo sebagai Elphaba dan Ariana Grande sebagai Glinda tetap jadi kekuatan utama—vokal mereka luar biasa, chemistry emosional bikin adegan reunion atau konfrontasi terasa menyentuh. Erivo sering dipuji karena intensitas dan range suara di nomor besar, sementara Grande tunjukkan kedalaman dramatis lebih dari sekadar bubbly. Produksi visual megah: set Oz yang elaborate, kostum warna-warni detail, dan efek spesial seperti flying scene atau transformasi karakter terlihat polished. Musik Stephen Schwartz tetap catchy, meski act kedua punya lagu kurang ikonik dibanding pertama. Arahan Jon M. Chu jaga splendor visual, tapi ada keluhan pencahayaan kadang terlalu gelap bikin sulit lihat detail.

Kelebihan, Kekurangan, dan Respons Penonton Wicked: For Good

Film ini unggul di emosi mendalam dan tema persahabatan serta identitas, bikin banyak penonton terharu di momen kunci seperti door scene ikonik. Visual spectacle dan performa aktor bikin layak tonton di bioskop, apalagi dengan sing-along version yang rilis digital akhir tahun. Respons penonton tinggi, sering bilang ini conclusion rousing meski lebih dark. Namun, kritik utama adalah act kedua source material memang lebih lemah—kurang lagu memorable, pacing unhurried, dan beberapa detour cerita terasa unnecessary. Dibanding bagian pertama yang fresh dan energik, sekuel ini terasa compounded issues seperti overlong di bagian politik. Secara keseluruhan, tetap crowd pleaser dengan box office kuat.

Kesimpulan

Wicked: For Good adalah penutup epik yang emosional untuk adaptasi musical ini, dengan penampilan memukau dari Erivo dan Grande serta visual indah yang bikin Oz hidup. Meski lebih dark dan pacing kadang goyah karena source act kedua kurang kuat, film ini sukses bawa ache persahabatan dan closure satisfying. Cocok buat fans musical atau yang suka fantasy emosional—recommended tonton di digital sekarang atau ulang di bioskop. Akhir 2025, ini salah satu musical film yang ninggalin kesan mendalam, meski tidak se-revolusioner bagian pertama. Worth it buat rasakan “for good”!

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *