Review Film The Last Princess. Film Korea Selatan The Last Princess yang dirilis pada 2016 kembali mendapat perhatian di akhir Desember 2025 ini. Kisah biografi Putri Deok-hye, putri terakhir dinasti Joseon yang hidup dalam pembuangan di bawah pendudukan Jepang, masih mampu membangkitkan emosi mendalam. Disutradarai oleh Hur Jin-ho, film ini menggabungkan drama sejarah, perjuangan pribadi, dan tragedi keluarga kerajaan dengan cara yang menyentuh. Meski berlatar masa lalu, tema tentang identitas, kehilangan tanah air, dan ketabahan seorang wanita terasa relevan hingga kini, membuatnya layak ditonton ulang saat mencari cerita inspiratif di penghujung tahun. BERITA BOLA
Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film The Last Princess
Cerita dimulai pada 1919, saat Deok-hye yang masih kecil dipaksa pindah ke Jepang atas nama pendidikan. Di sana, ia tumbuh di bawah pengawasan ketat, dijadikan alat propaganda kekaisaran Jepang untuk melemahkan semangat kemerdekaan Korea. Dewasa, Deok-hye berusaha mempertahankan identitasnya sambil menghadapi tekanan pernikahan politik dan gangguan mental akibat trauma.
Alur berganti antara masa kecilnya di istana Gyeongbokgung, kehidupan di Tokyo, hingga upaya rahasia Kim Jang-han—seorang pejuang kemerdekaan—untuk membawanya pulang pada 1962. Film menyoroti perjuangan diam Deok-hye melawan penindasan, termasuk kunjungan paksa ke Korea sebagai simbol kolonial. Konflik utama berpusat pada kerinduan akan tanah air dan keluarga, diakhiri dengan momen pulang yang pahit-manis setelah kemerdekaan Korea.
Penampilan Aktor dan Chemistry: Review Film The Last Princess
Son Ye-jin memerankan Deok-hye dewasa dengan luar biasa, menampilkan transformasi dari putri anggun menjadi wanita yang rapuh tapi tegar. Ekspresi wajahnya saat menahan air mata atau menunjukkan keteguhan hati berhasil membuat penonton terenyuh. Park Hae-il sebagai Kim Jang-han tampil karismatik sebagai pejuang setia, chemistry keduanya terasa kuat meski hubungan mereka lebih pada ikatan patriotik daripada romansa murni.
Pemain pendukung seperti Ra Mi-ran sebagai pelayan setia dan Yoon Je-moon sebagai perwira Jepang menambah kedalaman. Versi muda Deok-hye yang diperankan Kim So-hyun juga memberikan transisi emosional yang mulus. Secara keseluruhan, akting menjadi tulang punggung film, terutama dalam adegan-adegan hening yang penuh makna.
Kelebihan dan Kekurangan
Film ini unggul dalam produksi megah: rekreasi istana Joseon, kostum era kolonial, dan sinematografi yang indah berhasil membawa penonton ke masa lalu. Narasi sejarah disampaikan tanpa terlalu berat, dikemas dengan emosi pribadi yang mudah dihubungkan. Tema nasionalisme dan ketahanan wanita disampaikan dengan halus, sementara soundtrack mendukung nuansa sedih dan haru. Banyak penonton merasa terinspirasi oleh kisah nyata Deok-hye yang jarang diketahui.
Di sisi lain, beberapa bagian terasa melodramatis khas drama sejarah Korea, dengan air mata yang cukup intens. Tempo kadang lambat, terutama di bagian tengah yang fokus pada kehidupan di Jepang. Beberapa fakta sejarah disederhanakan demi narasi, meski tetap menghormati inti cerita. Bagi yang tidak suka drama berat, film ini bisa terasa cukup menguras emosi.
Kesimpulan
The Last Princess tetap menjadi salah satu drama sejarah terbaik Korea yang patut ditonton ulang di akhir 2025 ini. Dengan durasi sekitar dua jam, film ini berhasil menyajikan potret menyentuh tentang seorang putri yang kehilangan segalanya kecuali martabatnya. Akting memukau Son Ye-jin dan penyutradaraan elegan membuatnya berkesan lama. Jika Anda menyukai cerita berlatar sejarah dengan fokus pada kekuatan individu, film ini akan meninggalkan rasa haru sekaligus bangga. Secara keseluruhan, ini adalah pengingat indah bahwa ketabahan bisa lahir dari penderitaan terdalam, sekaligus tribut bagi sosok nyata yang hampir terlupakan.

