Review Film Love for Sale 2. Film Love for Sale 2 yang dirilis pada 2019 kembali menjadi pembicaraan hangat di awal 2026. Sekuel dari kisah romansa unik ini sering ditayangkan ulang di platform digital, membangkitkan minat penonton terhadap tema cinta sementara dan dinamika keluarga. Saat pertama tayang, film ini berhasil menarik ratusan ribu penonton meski tak mencapai angka jutaan seperti harapan, tapi tetap dihargai karena pendekatan emosional yang lebih dalam. Kini, cerita Arini yang misterius ini masih relevan, terutama bagi yang suka drama dewasa tentang tekanan pernikahan dan perasaan tak terucap. BERITA BOLA
Plot dan Karakter Utama: Review Film Love for Sale 2
Cerita berfokus pada Ican, pria lajang yang terus didesak ibunya, Ros, untuk segera menikah. Muak dengan upaya penjodohan, Ican memutuskan menyewa pendamping dari aplikasi kencan khusus, dan bertemu Arini—wanita ideal yang mampu menyatukan keluarganya yang retak. Perlahan, Arini tak hanya berakting sebagai calon menantu, tapi benar-benar membawa kehangatan, membuat Ican jatuh cinta sungguhan meski tahu ini hanya sementara.
Adipati Dolken memerankan Ican dengan natural, menampilkan pria cuek yang pelan-pelan rentan. Della Dartyan kembali sebagai Arini, misterius dan memikat seperti di film pertama. Ratna Riantiarno sebagai Ros brilian menunjukkan ibu posesif tapi penyayang, didukung Ariyo Wahab, Bastian Steel, dan cameo spesial. Chemistry Ican dan Arini terasa kuat, membuat penonton ikut terbawa emosi konflik antara akting dan perasaan asli.
Elemen Emosional dan Keluarga: Review Film Love for Sale 2
Love for Sale 2 lebih mengeksplor dinamika keluarga dibanding pendahulunya, dengan fokus pada tekanan pernikahan di masyarakat Indonesia. Arini menjadi katalisator yang menyembuhkan hubungan retak antaranggota keluarga, dari saudara hingga menantu. Tema cinta berbayar digali lebih dalam, menyoal batas antara pura-pura dan nyata, plus kritik halus terhadap ekspektasi sosial soal kawin.
Disutradarai Andibachtiar Yusuf, film ini menyajikan tempo lambat tapi penuh nuansa, dengan dialog relatable dan adegan hangat sehari-hari. Musik pendukung menyentuh memperkuat momen haru, membuat cerita terasa seperti potret kehidupan nyata yang bittersweet.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena pengembangan karakter keluarga yang matang, performa Della Dartyan yang memukau, serta pesan tentang kebahagiaan sejati tak selalu dari pernikahan. Banyak penonton terharu dengan akhir emosional dan representasi keluarga Indonesia yang autentik. Sekuel ini berhasil berdiri sendiri meski melanjutkan elemen misteri Arini.
Di sisi lain, beberapa kritik bilang plot agak repetitif soal desakan nikah, serta karakter Arini tetap vague tanpa backstory jelas. Konflik kadang terasa terlalu manis atau dipaksakan, membuat sebagian penonton merasa kurang greget dibanding film pertama. Meski begitu, kekurangan ini tak menghalangi kesan sebagai drama dewasa yang menyentuh.
Kesimpulan
Love for Sale 2 membuktikan sekuel bisa lebih emosional dengan fokus keluarga dan cinta kompleks. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa kebahagiaan sering datang dari hal tak terduga, meski sementara. Dengan akting solid dan pesan mendalam, film ini layak ditonton ulang untuk merenungkan arti hubungan di tengah tekanan sosial. Secara keseluruhan, ini adalah lanjutan berkualitas yang abadi, cocok bagi yang ingin drama romantis penuh haru dan realitas kehidupan.

